"... just as media technologies that we now consider to be 'old' were once 'new', so too do media technologies that were once 'new' become 'old'." (Marvin, 1998; Gitelman & Pingree, 2003; Flew, 2008)
Sering kali sebuah dikotomi ada di area abu-abu. Ihwal ini kerap terjadi ketika pemahaman terhadap suatu hal belum sepenuhnya dimengerti. Begitu pun ketika teknologi informasi melaju dengan berbagai variannya. Lantas yang muncul ke permukaan penggunaan istilah-istilah yang (mungkin) membingungkan. Kini, dengan meluasnya penggunaan Internet dan komputer, muncul istilah yang membagi dua kutub antara media konvensional dan media baru (new media).
Menurut van Dijk, media baru adalah media yang dikarakteristikkan oleh integrasi, interaktivitas, dan menggunakan kode digital. Dengan pengertian ini, istilah media baru sering dipertukarkan dengan istilah multimedia, media interaktif, dan media digita. Dengan definisi ini mudah untuk mengidentifikasi media lama maupun media baru. Misalnya, televisi analog mengintegrasikan gambar, suara dan teks, tetapi tidak interaktif atau berdasarkan kode digital.
Berbeda dengan televisi Internet yang selain mengintegrasikan komponen yang ada pada televisi konvensional, juga mampu mewadahi interaktivitas dan dioperasionalkan dengan kode digital. Jan van Dijk mencirikan media baru dalam beberapa karakteristik sebagai berikut.[1]
1. Integrasi (Integration)
Karakteristik utama media baru secara struktural adalah integrasi antara telekomunikasi, data komunikasi, dan komunikasi massa dalam satu media tunggal. Ini yang disebut proses konvergensi. Karena itu, media baru sering disebut multimedia. Integrasi dapat terjadi pada salah satu ranah berikut.
- Infrastruktur—misalnya menggabungkan sambungan transmisi dengan peralatan yang berbeda untuk telepon dan komunikasi data komputer.
- Transportasi—misalnya telepon Internet dan web TV menumpang pada televisi satelit atau televisi kabel.
- Manajemen—misalnya sebuah perusahaan kabel yang terjun menggeluti layanan telepon dan sebuah perusahaan telepon yang terjun menggeluti televisi kabel.
- Layanan—misalnya kombinasi layanan komunikasi dan informasi di Internet.
- Jenis data—menyatukan suara, data, teks, dan gambar.
Integrasi ini mengarah pada penggabungan bertahap telekomunikasi, komunikasi data, dan komunikasi massa, bahkan mungkin perbedaan makna ketiga istilah ini akan hilang.
2. Interaktivitas (Interactivity)
Karakter struktural media baru yang kedua dalam revolusi komunikasi adalah kemunculan media interaktif. Secara umum, interaktivitas adalah urutan aksi dan reaksi. Van Dijk dan de Vos (2001) menawarkan definisi operasional interaktivitas yang seharusnya berlaku untuk komunikasi tatap muka. Kedua peneliti ini mendefinisikan interaktivitas pada empat tingkat akumulatif—dengan landasan bahwa konsep interaktivitas bersifat multidimensi.
Pada level pertama, interaktivitas adalah kemungkinan untuk membangun komunikasi dua sisi atau multilateral komunikasi. Ini adalah dimensi ruang. Semua media digital menawarkan kemungkinan ini sampai batas tertentu. Level kedua interaktivitas adalah derajat sinkronisitas. Ini adalah dimensi waktu. Hal ini juga diketahui bahwa urutan aksi dan reaksi (yang tidak terganggu) biasanya meningkatkan kualitas interaksi.
Level ketiga interaktivitas adalah cakupan kontrol yang dilakukan oleh para pihak yang berinteraksi. Ini adalah dimensi perilaku, yang didefinisikan sebagai kemampuan pengirim dan penerima untuk berganti peran setiap saat. Dengan kata lain, ini tentang kontrol atas peristiwa dalam proses interaksi. Interaktivitas dalam hal kontrol adalah dimensi yang paling penting dalam semua definisi interaktivitas dalam kajian media dan komunikasi.
Level keempat dan tertinggi interaktivitas adalah bertindak dan bereaksi dengan memahami makna dan konteks. Ini adalah dimensi mental—kondisi yang diperlukan untuk interaktivitas penuh, misalnya, dalam percakapan fisik dan komunikasi melalui komputer.
3. Kode Digital (digital code)
Kode digital merupakan karakteristik media secara teknis yang hanya digunakan untuk mendefinisikan bentuk baru operasi media. Namun, kode digital memiliki konsekuensi yang besar besar untuk komunikasi. Kode digital berarti bahwa dalam menggunakan teknologi komputer, setiap sitem informasi dan komunikasi dapat diubah dan ditransmisikan dalam bentuk rangkaian satu dan nol yang disebut bit. Kode buatan ini menggantikan kode alami pembuatan serta transmisi informasi dan komunikasi analog. Efek besar pertama dari transformasi semua isi media dalam kode digital yang sama adalah keseragaman dan standarisasi isi. Bentuk dan substansi tidak dapat dipisahkan dengan mudah seperti yang dikira oleh banyak orang.
No comments:
Post a Comment